Kesehatan Kucing

Cat Ear Tip Bolehkah Dilakukan?

Populasi kucing yang tinggi serta populernya tindakan sterilisasi (kebiri) pada kucing liar ternyata memiliki kendala yang tidak pernah terbayangkan oleh catlovers. Selain permintaan sterilisasi yang meningkat, menentukan kucing liar, utamanya kucing betina liar, yang telah disteril atau belum pun tidak semudah yang dibayangkan. Seringkali dokter hewan menemukan bahwa kucing yang akan disteril tidak lagi memiliki ovarium (indung telur) dan uterus (rahim) setelah berada di meja operasi.

“Secara inspeksi memang tidak ada perbedaan fisik yang nyata antara kucing betina yang telah disteril atau pun yang belum.” Ujar Drh. Fitria Senja Murtiningrum. Menurutnya, satu-satunya tanda fisik yang dapat dilihat adalah bekas luka operasi yang dapat ditemukan di area perutatau di samping perut dekat dengan paha. Kendala lainnya, bekas luka operasi ini hanya dapat dilihat apabila kucing berhasil ditangkap sementara kucing liar umumnya tidak terbiasa dengan manusia sehingga proses penangkapan akan memakan waktu serta tenaga. Di sisi lain, bekas luka operasi ini juga tidak selalu menjamin bahwa kucing telah disteril. “Bisa saja bekas luka operasi tersebut hasil operasi lain yang bukan steril sehingga memang tidak ada tanda pasti untuk kucing yang telah disteril.” tambahnya.

Untuk itu, beberapa Negara maju seperti Amerika Serikat menerapkan ear tipping sebagai tanda pada kucing yang telah disteril. Meskipun hal ini memang belum terlalu popular dilakukan di Indonesia, namun ear tipping ini mulai banyak diterapkan di klinik-klinik utamanya pada kucing liar yang akan dilepas lagi setelah disteril. Ada berbagai macam bentuk ear tipping yang umumnya dibuat pada ujung telinga kiri yaitu bentuk segitiga terbalik, rata, atau hanya goresan saja. Ada pula beberapa Negara seperti West Coast yang menerapkan ear tipping pada telinga sebelah kanan.

Drh. Fitria Senja Murtiningrum

Ear tipping biasanya hanya dilakukan pada kucing liar dan ketika kucing tersebut masih dalam keadaan terbius selama operasi sehingga perlukaan yang dibuat tidak menimbulkan rasa sakit maupun melanggar prinsip kesejahteraan hewan. “Ear tipping ini akan sangat membantu untuk mengenali kucing yang telah disteril dengan sekali lihat saja sehingga tindakan penangkapan yang dapat memicu stress pada kucing hingga operasi steril berulang tidak lagi terjadi. Tanda ini juga akan tampak sangat jelas bahkan dari kejauhan.” Tambah Drh. Senja.

 

 

 

 

Meskipun begitu, beberapa ujaran ketidaksetujuan juga muncul dari beberapa catlovers yang merasa bahwa tindakan ini dianggap sebagai bentuk kekejaman ataupun tindakan yang merusak penampilan. Hal ini kemudian ditanggapi lebih lanjut oleh Drh. Danny Umbu yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat antara tenaga medis dan catlovers yang menganut prinsip animal right atau sejenisnya ini memang sulit untuk diselesaikan. Dari segi medis, hal ini akan sangat membantu untuk mencegah penderitaan pada kucing liar akibat penangkapan dan operasi berulang yang tidak diperlukan, sementara  dari segi catlovers, tindakan ini diakui memang membuat penampilan kucing menjadi sedikit aneh. “Untuk itu, biasanya kami (dokter hewan) akan menanyakan terlebih dahulu kepada pemilik apakah kucing yang dioperasi boleh kami lakukan ear tipping atau tidak. Apabila pemilik tidak menginginkannya maka kami akan memastikan juga pada pemilik bahwa kucing ini tidak boleh kabur karena dikhawatirkan ditangkap lagi dan terjadi operasi berulang.” Ujar Drh. Danny.

“Kami juga menawarkan beberapa solusi lain seperti pemberian ear tag (sejenis anting), tattoo, atau microchip sebagai penanda.” Tambah Drh. Senja. Namun menurutnya, masing-masing penanda juga memiliki kelemahan. Ear tag berbentuk seperti anting dengan tanda khusus yang menjelaskan bahwa kucing telah disteril, namun ear tag ini mudah lepas apabila kucing beraktivitas dan dapat menimbulkan perlukaan yang menambah penderitaan kucing.

Penanda tattoo yang diberikan serupa dengantattoo stambum yang diberikan pada anjing di telinga sebelah dalam, namun tattoo ini tidak mudah dilihat dari kejauhan dan memerlukan penangkapan kucing terlebih dahulu. Selain itu, tattoo ini juga akan hilang setelah beberapa tahun.

Drh. Danny Umbu

Penanaman microchip cukup populer dilakukan di negara-negara maju, umumnyamicrochip digunakan untuk memberikan identitas pada hewan peliharaan namun microchip ini juga telah banyak dikembangkan untuk memberikan informasi kucing telah disteril atau belum. Microchip ini akan ditanam cukup dalam di tubuh dan dibaca dengan scanner, namun kelemahannya terletak pada harga. “Untuk harga mahal atau murahnya memang relative tergantung pemilik, rata-rata harga pemasangan microchip di Indonesia berkisar antara Rp150.000 – 200.000,-.” Tambah Drh. Danny.

Jadi, tindakan ear tipping secara medis diperbolehkan namun apabila pemilik tidak menginginkan kucingnya diberikanear tipping maka pemilik harus menjamin kucing yang telah disteril tersebut tidak kabur atau solusi lain yang dapat diberikan berupa pemberian tanda jenis lain pada kucing. (Stephany)

2 Replies to “Cat Ear Tip Bolehkah Dilakukan?”

  1. Yth Drh. Fitria Senja Murtiningrum & Drh. Danny Umbu

    Terima kasih untuk informasi yang cukup baik mengenai Ear Tip terhadap kucing2 kesayangan yang memang akan di streil. Saya mau tanya, sekiranya ada tempat steril yang mewajibkan para pemilik hewan untuk mengikuti peraturan dengan “wajib Ear Tip” ini bagaimana ya?
    Seandainya peraturan ini tidak wajib, mengapa wajib tidak hanya diterapkan kepada kucing2 liar saja, sementara untuk kucing peliharaan tidak diwajibkan untuk Ear Tip.

    Mohon responnya.

    1. Kami bantu menjawab. Jika kakak tidak ingin kucing milik kakak diberi ear tip, bisa disampaikan ke klinik steril bahwa kucing tersebut adalah milik pribadi bukan kucing liar, sehingga tidak perlu ear tip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *