CAT LOVER SOLO PEDULI COVID-19

CAT LOVER SOLO PEDULI COVID-19

Pembatasan Wilayah Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah Indonesia untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tentu membawa banyak perubahan yang membuat masyarakat berangsur-angsur harus mulai berdaptasi menuju normal baru.

Namun hal ini tidak membatasi semangat catlovers Solo serta relawan pecinta satwa yang tergabung dalam Cat Lover Peduli Covid-19 menyisir sejumlah pasar tradisional di Solountuk memberi makan dan memeriksa kesehatan kucing liar yang terdampak pandemi virus Corona (COVID-19).

Dilansir detik.com, aksi ini diikuti beberapa relawan di antaranya dari Rudimeong, Suara Indonesia dan Exalos Indonesia. Mereka melakukan penyisiran di beberapa pasar tradisional di Kota Solo dan juga selter-selter kucing. Seperti di Pasarlegi Banjarsari, Pasar Tanggul, Dawung, Stabelan, Ngebrusan, Widuran, Gemblegan dan Bibis Wetan.

Di Pasarlegi Banjarsari, terdapat lokasi persinggahan kucing liar. Salah seorang pedagang di pasar darurat Pasarlegi, Kasni N (63) menuturkan di sekitar pasar banyak kucing-kucing liar yang biasanya berkumpul pada sore hari.
“Kalau yang biasa saya kasih makan ada tiga ekor, ya saya kasih semampu dan sepunyanya makanan saya. Kadang nasi dan ikan asin, kadang juga nasi dan kerupuk,” ujarnya, Senin (25/5/2020).

Di tempat inilah kemudian para relawan menitipkan beberapa bungkus makanan kucing kepada Kasni agar diberikan kepada kucing-kucing yang biasa menyambangi lapak dagangannya.

Salah seorang relawan pecinta kucing, Budi Hariyanto (51) mengatakan dirinya rutin memberi makan kucing liar tiap hari. Warga Stabelan, Banjarsari ini kerap memberikan makanan kepada kucing liar di daerah Monumen Banjarsari hingga ke Pasar Legi Solo.

 

Haryanto bekerja sebagai penjual makanan khas Solo, leker. Setiap harinya masih berupaya menyisihkan uang hasil jualan dan membeli makanan untuk kucing.

Budi Hariyanto (51) mengatakan dirinya rutin memberi makan kucing liar tiap hari.

“Rata-rata keuntungan berjualan leker  Rp 1oo per harinya, biasanya saya sisihkan Rp 25 ribu untuk membeli satu kilogram pakan kucing,” ungkapnya.

“Saya biasanya memberi makan pagi dan sore, pagi sebelum berangkat kerja dan sore sepulang kerja,” ujarnya.

Pegiat Cat Lover dari Rudimeong Solo, Hening Yulia (39) mengatakan banyak menerima laporan kucing-kucing meninggal karena mati kelaparan selama pandemi Corona ini.

“Di kampus, di pinggir jalan besar, di pasar. Banyak warung tutup, kampus libur, toko-toko juga tutup. Sehingga para kucing harus survive sendirian,” ujarnya.

Meskipun terlambat, tambah Hening, para relawan mencoba bergerak dan menyisir lokasi kucing liar ini berkumpul mencari makanan.

“Dan pasar biasanya adalah tempat favorit kucing untuk mencari makanan yang tersisa dari para penjual. Kami akan seminggu sekali mencoba menyisir mencari kucing-kucing kelaparan ini,” tambahnya.

Para relawan berharap agar masyarakat yang melihat kucing-kucing liar kelaparan agar melaporkan kepada mereka.

“Kami akan datang dan memberikan makanan semampu kami dan menjaga agar hewan-hewan ini tidak mati kelaparan,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *