ERIKA RESCUER BERHATI MULIA

ERIKA RESCUER BERHATI MULIA

Bermula beberapa tahun silam ketika keponakannya yang tinggal di Jawa Timur terkena leukima, Erika pun turut serta merawatnya selama dua tahun, meski pada akhirnya sang keponakan pulang ke pangkuan Tuhan.

Sang adik (Ibu dari keponakannya) merasa sangat sedih dan terpukul, saat berkunjung ke salah satu kawannya yang kebetulan dokter hewan yang tinggal di Depok, sang kawan menyarankan agar adik Erika memelihara anjing supaya tidak merasa kesepian.

Kebetulan sang kawan dititipkan anjing maltese oleh tetangga yang tidak bisa merawatnya, anjing maltase itu merupakan anjing liar yang datang untuk berteduh saat hujan, warnanya putih terlihat kumal dan bau dengan bulunya yang rontok.

Erika pun mendatanginya, saat dicek ternyata maltase ini memiliki tumor di leher , tanpa ragu Erika langsung membawanya ke dokter untuk dioperasi serta dilakukan steril. Setelah maltase ini sehat Erika berencana untuk memberikannya kepada sang adik di Jawa Timur, namun ternyata bandara Juanda tidak menerima pengiriman hewan jadi tidak bisa lewat udara dan hanya memungkinkan pengiriman darat.


Tak berapa lama Erika melakukan pengecekan kesehatan ulang terhdap maltese ini agar bisa dikirim melalui jalur darat, dan baru diketahui ternyata jantung anjing ini pun bermasalah. Jadi tidak bisa juga dikirim lewat darat.

Erika dan salah satu anjing yang dirawat

“Saat itu pun aku langsung bingung mengenai maltase ini, karena jujur saja saat itu aku belum terlalu suka dengan binatang, meski di rumah aku memelihara ikan dan kura-kura,” ujar Erika.

Namun ketika harus memelihara maltase ini Erika juga agak ragu, meski begitu Erika tetap bertanggung jawab dan mulai mengurusnya dengan membelikan kandang besar untuk dijadikan rumahnya. Suatu malam hujan datang dan Maltase ini menggonggong karena terkena tampias air.

“Sekitar jam 4 subuh, aku terbangun dan melihat maltasenya sudah kebasahan, langsung dibawa masuk, aku handukin sambil dipeluk dan meminta maaf, nah sejak saat itulah aku mulai sayang!”


Semenjak saat itu Erika mulai merasakan jatuh cinta pada maltase tersebut, pasalnya jam berapapun dirinya pulang kerja, maltase itu selalu menunggunya pulang dengan mata berbinar sambil mengibas-ngibaskan ekornya ketika melihat Erika datang. Perlahan Erika juga kemudian belajar bagaimana cara merawat anjing, kapan harus divaksin dan juga bergabung dengan Serpong Dog Lovers yang mengadakan gathering tiap minggu.

Keseriusannya dalam merawat anjing juga dirinya buktikan dengan mencari banyak informasi tentang rescue anjing dan membantu para rescuer. Tanpa disadari dalam setahun Erika memiliki 24 ekor anjing yang dia rawat dengan penuh kasih sayang. Meski niat baiknya dalam merawat anjing-anjing terlantar ternyata mendapat protes dari tetangga dikarenakan tempat tinggalnya yang kecil. Maka Erika pun menitipkan anjing-anjingnya ke beberapa penitipan hewan.

“Setiap dua hari sekali aku bergantian dengan kakakku untuk memberi makan mereka! rasanya sedih sekali karena saat kami pulang mereka menangis, berlarian menuju mobil dan ingin ikut pulang!” ungkap Erika.

Ada satu kisah mengenai Ming-ming anjing yang dirinya rescue sejak puppy dari tempat sampah, Ming-ming sangat setia bahkan melompati pagar saat dititip di penampungan agar diajak pulang.

Menurut penuturan Erika sepengalamannya menjadi rescuer tidak sesulit apa yang dibayangkan, justru yang sulit adalah ketika mengelola shelter, apalagi kini ada 91 ekor anjing yang Ia rawat.

“Karena sering kali diusir oleh tetangga, maka aku menyewa lahan seluas 1 hektar di daerah Rawa Kalong, aku bangun shelter dan buat menjadi beberapa blok agar anak-anak bisa bermain dan berlarian secara nyaman.”

Mirisnya masih ada saja oknum yang malah memeras untuk mengambil keuntungan dari niat baik Erika dalam merawat anjing-anjing terlantar, bahkan ketika rescuer membentuk menjadi sebuah yayasan, ada pajak yang harus dibayarkan.

“Misal di Bali yang kesulitan untuk membuat shelter, karena pemerintah Bali hanya memperbolehkan membangun shelter di Kuta Selatan, sementara di sana masyarakatnya belum bisa menerima, jadinya hingga sekarangpun anjing yang sudah di rescue, divaksin dan sudah disteril belum punya tempat tinggal” ujar Erika.

Untuk asupan makanan di shelternya, Erika membutuhkan 10-12 kg beras, daging bebek sekitar 12-16 kg per hari, yang mahal justru adalah biaya pengobatan jika ada anjing yang sakit, karena hal tersebut bisa menjadi wabah.

“Belum lama, di sini terkena wabah distamper, ruang isolasi penuh, tidak ada tempat di klinik, maka kita bangun ruang instalasi darurat dan memanggil dokter tiap hari untuk visit, dan semua anjing yang sehat harus di push imunnya, total sekitar 30 juta lebih untuk biaya seperti itu,” ungkap Erika.


Erika juga berpesan kepada petlovers yang berkeinginan untuk memelihara anjing, harus diingat bahwa anjing adalah mahluk hidup, banyak orang membeli puppies dengan alasan lucu, menggemaskan, namun ironisnya saat bertumbuh menjadi dewasa, anjingnya hanya ditaruh di kandang dan disia-siakan.

“Seperti misal anjingnya dikandangkan di luar rumah, jika kotor hanya disemprot dari luar, sementara makanannya menjadi basah, air minumnya juga tumpah, dan asisten rumah tangga yang diminta merawatnya, sementara anjingnya stress, kotor, kehujanan, kepanasan tidak diperhatikan,” tegasnya.

Karena walau bagaimanapun memelihara hewan adalah sebuah komitmen seumur hidup, artinya sepanjang hidup ini kita harus komitmen merawat serta menyangi mereka, karena mereka juga memiliki perasaan, bisa sakit, bisa rindu bahkan bisa patah hati.

“Kebanyakan anjing kami rescue adalah anjing-anjing yang patah hati dari owner sebelumnya, karena mereka merasa dibuang, merasa tidak diinginkan kembali, dan mengobati luka batinnya itu jauh lebih susah daripada mengibati luka fisiknya.”

Ada satu anjing poodle yang Erika rescue, kini diberi nama Ciput yang direscue di modern land dengan keadaan yang sudah sangat hancur, kulitnya rusak, matanyapun buta, bahkan Erica juga awalnya tidak menyadari bahwa Ciput adalah jenis poodle.

“Ciput masih takut dengan manusia, mungkin saat berada di jalan sering disiksa oleh anjing yang lebih superior atau oleh manusia, makanya kalau tidur masih suka mengigau dan ketakutan, meski sudah mulai berani untuk tidur dekat-dekat dengan aku.”

Itulah mengapa komitmen dalam merawat hewan apapun itu jenisnya, sebagai owner harus bertanggung jawab penuh untuk memberikan perawatan, fasilitas dan tentu kasih sayang terhadap hewan yang akan dipelihara. (vira)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *