Serba-Serbi

Jangan Disakiti, Kucing Juga Punya Hati!

Akibat ulah kakak-kakaknya yang senang bermain dengan hewan berbulu nan menggemaskan, Nikmatun Aliyah Salsabila atau yang biasa disapa Sabil, sudah akrab dengan kucing sejak balita.

“Jadi pas aku masih botak (balita), kakak-kakak aku memang pada suka kucing dan memeliharanya di rumah. Apalagi kakak aku yang pertama. Dia sampe tidur aja melukin kucingnya sampe si kucing susah keluar dan akhirnya pupup di pelukan kakakku,” tuturnya menahan tawa.

Sabil sendiri baru mulai merasakan ketertarikkannya pada kucing saat duduk di Sekolah Dasar, “aku mulai tertarik sama kucing pas SD kelas 1 atau 2 gitu. Jadi ada kucing di depan rumah. Bagus. Aku beliin roti dia mau hahaha. Ya udah sejak itu dia jadinya dipelihara dan dikasih nama sama kakakku. Namanya Izzy. Selanjutnya kalau ada kucing yang mendekat dan nurut, tau-tau jadi sering ke rumah aja gitu kemudian dipelihara deh,” ungkapnya sumringah.

Bahkan saking cintanya terhadap kucing, saat kecil Sabil sempat menulis data diri dari kucing-kucingnya. Bertahun-tahun memelihara kucing momen menyedihkan juga tidak luput dari kucing yang ia pelihara.

“Hmmm, pasti dari sekian kucing, ada aja nih yang paling aku sayang. Biasanya kalo kucing mati itu pasti ada aja air mata sih. Cuma waktu itu ada namanya Moni, itu emang pinter banget, dekat sekali sama aku duh pokoknya selalu jadi mood booster deh, tidur bareng dan lain-lain. Pas Moni mati, itu tuh aku nangis seharian sampe besoknya aku kerja (aku sempet kerja sebelum kuliah) mata aku bengkak banget dan semua orang di kantor pada nanya. Pas aku jawab karena kucingku mati, malah pada ketawa,” kenangnya seraya menyembunyikan air mata yang mulai mengembang.

Lebih jauh Sabil menceritakan jika dulu pernah juga kucingnya mati berturut turut karena keracunan. “Jadi ada tetangga aku yang suka menaruh racun tikus gitu. Nah, kucing aku kan emang bebas ya maksudnya ngga di kandang gitu, jadi mereka main di luar dan gak sengaja sepertinya malah memakan makanan yang sudah diberi racun tikus.”

Rasanya sangat menyedihkan ketika Sabil harus melihat kucingnya mati secara perlahan, “Aku tuh benar-benar enggak tega, bahkan aku mencari cara agar mereka bisa tertolong,” tukasnya dengan binar-binar kesedihan di wajahnya.

Namun Sabil patut bersyukur, ketika tetangganya tersebut pindah kini sudah tidak ada lagi kucing-kucing yang mati keracunan. Sabil juga tidak bisa menjelaskan kenapa dirinya begitu sayang pada kucing. Sabil merasa kucing-kucing yang dekat dengannya bisa memahami apa yang sedang dia rasakan. “Pernah saat aku lagi sedih tahu-tahu disamperin. Dipijitin ini beneran loh ada yang bisa mijit-mijit haha atau sekadar dia tidur di dekat aku dan ndusel-ndusel, ini yang bikin kucing emang udah kayak adik dan sahabat aja.”

Saat ini Sabil mengaku memelihara tiga ekor kucing, “seharusnya ada 5 tapi masa ya bulan lalu yang abu-abu tau tau menghilang gitu aja. Terus seminggu lalu yang abu-abu putih juga menghilang, aku jadi bingung. Diambil orang apa gimana? Pokoknya pas mereka main pagi-pagi terus nggak muncul lagi, udah dicariin dipanggil-panggil tapi gak ada suara gitu loh biasanya udah pada tau nama,” papar Sabil dengan wajah yang menyiratkan kecemasan.

Semua kucing yang Sabil pelihara merupakan kucing lokal. Karena biasanya memang memelihara kucing yang tiba-tiba datang saja ke rumah. “Awalnya cuma dikasih makan. Eh dia dateng terus, Ya udah selama ini begitu. Pernah sih sempat memelihara persia dikasih orang gitu sama kucing siam.”

Salah satu tanda yang Sabil percayai bahwa kucingnya sangat mengerti apa yang dia rasakan ketika dirinya bepergian dan tidak di rumah dalam beberapa hari, saat dirinya kembali ke rumah kucingya langsung mendekat dan minta diusap-usap seperti menandakan rindu tanpa kata. “Kalo kucing yang emang biasa sama aku karena ada yang lebih deketnya sama ayahku gitu, itu kucingnya Alhamdulillah dia kayak kangen juga gitu, langsung mendekat ndusel-ndusel dan duduk di pangkuan.”

Kadang Sabil juga merasa bersalah ketika dirinya sibuk mengerjakan tugas kuliah dan tidak bisa menemani kucingnya bermain, “kucing aku ada yang kalau kamu sedang sibuk, dia kadang suka mencari perhatian. Kalo masih dicuekin juga, kadang meong-meong kedengerannya kaya sedih gitu, terus dia jadi keluar deh huhuhu, kadang kalo lagi emang gak bisa diganggu, tugas deadline banget gitu, terpaksa aku diamkan aja. Tapi kalo misalnya biasa, langsung aku ajak ngobrol, gendong-gendong bawa ke kasur, hehe”

Sebagai penyayang kucing Sabil ingin sekali bergabung dengan salah satu komunitas penyayang kucing “meowholic” namun belum mendapat kesempatan untuk menghadiri gathering. Tujuannya agar dirinya bisa bertemu dan bersilaturahim dengan sesama penyayang kucing lainnya. (Vira)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *