Suatu sore yang tenang, dapur rumah mendadak berubah menjadi panggung penghancur harga diri seekor predator.
Semua bermula dari satu panci jagung rebus.
Uap hangatnya naik perlahan. Aroma manis jagung memenuhi ruangan. Seorang ibu sedang meniup-niup jagung panas sambil duduk santai di kursi plastik dekat meja makan.
Lalu…
datanglah dia.
Seekor kucing Item-Putih, dengan langkah penuh wibawa.
Jalannya pelan. Dadanya maju. Ekornya tegak seperti penguasa wilayah. Tatapannya tajam seolah baru selesai patroli keamanan kompleks.
Kalau melihat gayanya, orang pasti percaya kalau nenek moyangnya memang harimau.
Dia melompat ke kursi.
Diam.
Mengamati.
Matanya menatap jagung rebus itu seperti seorang detektif sedang menginterogasi tersangka.
“Ini benda apa?”
Dia mendekatkan hidungnya.
Sniff…
Sniff…
Lalu menoleh sedikit ke arah manusia, seakan bertanya:
“Kalian serius makan beginian?”
Manusia di rumah tertawa kecil.
“Eh jangan-jangan mau juga?”
Tentu saja tidak mungkin.
Ini kucing.
Carnivora sejati.
Pemburu berdarah dingin.
Makhluk yang seharusnya berburu tikus, bukan sayuran.
Harga dirinya terlalu tinggi untuk jagung rebus.
Namun beberapa detik kemudian…
lidah kecil itu keluar.
Jilat.
Hening.
Kucing itu membeku sebentar.
Matanya membesar sedikit.
Seolah ada konflik besar di dalam kepalanya.
“Aneh…”
“Tapi…”
“Lumayan juga…”
Lalu terjadilah sesuatu yang tak pernah diprediksi siapa pun.
HAP.
Gigitan pertama.
Disusul gigitan kedua.
Lalu ketiga.
Dan mendadak seekor predator mini itu makan jagung rebus dengan penuh penghayatan seperti pekerja lembur yang baru menemukan prasmanan gratis.
Semua orang di dapur langsung heboh.
“YA AMPUNNNN…”
“KUCING MAKAN JAGUNG!”
Si Item-Putih, tetap makan tanpa peduli.
Harga dirinya runtuh, tapi perutnya bahagia.
Padahal secara ilmiah, kucing memang dikenal sebagai obligate carnivore. Tubuh mereka dirancang untuk mendapatkan nutrisi utama dari daging. Mereka membutuhkan protein hewani untuk hidup optimal. Dalam teori besar dunia perkucingan, jagung seharusnya bukan sesuatu yang menggoda.
Tapi teori kadang kalah oleh rasa penasaran.
Dan kalau bicara soal penasaran, kucing adalah profesor besarnya.
Mereka akan mencium apa saja.
Menjilat apa saja.
Kadang bahkan memakan sesuatu hanya karena manusia terlihat menikmatinya.
Di kepala seekor kucing mungkin ada logika sederhana:
“Kalau manusia fokus banget makan itu… mungkin itu penting.”
Maka dimulailah investigasi.
Jagung rebus hari itu bukan lagi makanan.
Ia berubah menjadi ujian identitas.
Di satu sisi, si kucing membawa darah predator. Pemburu elegan. Makhluk yang diwarisi insting berburu selama ribuan tahun.
Tapi di sisi lain…
jagungnya hangat.
Empuk.
Manis.
Dan agak bikin nagih.
Konflik batin itu mungkin berat.
Bayangkan isi pikirannya:
“Aku keturunan harimau…”
“Aku pemburu malam…”
“Aku simbol keganasan…”
“Hm… tapi jagung ini enak juga.”
Seketika aura liar itu buyar.
Tapi justru di situlah lucunya kucing.
Mereka terlihat misterius, dingin, dan penuh karisma…
padahal bisa kehilangan harga diri demi makanan yang bahkan tidak punya kaki untuk diburu.
Dan sebenarnya, mungkin bukan soal jagungnya.
Mungkin yang membuat momen itu terasa hangat adalah suasananya.
Duduk dekat manusia favoritnya.
Mencicipi sesuatu bersama.
Mendengar suara tawa di dapur.
Kadang seekor kucing tidak sedang mencari makanan.
Dia sedang menikmati kebersamaan.
Malam itu si Item-Putih, akhirnya tidur pulas di sofa. Perut kenyang. Kumis tenang. Dunia damai.
Entah dia masih merasa dirinya predator sejati atau tidak.
Tapi satu hal pasti…
besok kalau ada jagung rebus lagi,
dia akan datang lebih cepat.
Seperti inilah, keseruannya:
(Dwijo- Cat&Dog)

