Kenapa Kucing Suka Mendekati Orang yang Justru Tidak Suka Kucing? Ini sebuah misteri yang ternyata ada penjelasan ilmiah, psikologis, dan perilaku hewannya. Pernah melihat kejadian seperti ini?
Di sebuah ruangan ada banyak orang. Pecinta kucing sibuk memanggil: “Pus… pus… sini sayang…”
Tetapi si kucing malah berjalan santai menuju satu orang yang dari tadi duduk diam sambil berkata: “Duh jangan dekat-dekat ya, saya nggak suka kucing.”
Aneh?
Lucunya, kejadian seperti ini sangat sering terjadi. Bahkan sampai menjadi meme dan bahan bercandaan di media sosial. Semakin seseorang cuek pada kucing, terkadang justru semakin besar kemungkinan si kucing mendekat. Kenapa bisa begitu?
Apakah kucing memang suka “mengganggu” orang yang tidak menyukainya? Atau sebenarnya ada penjelasan perilaku yang lebih dalam?
Ternyata, jawabannya cukup menarik. Dan semakin dipelajari, semakin terlihat bahwa perilaku kucing itu jauh lebih halus, sensitif, dan cerdas daripada yang kita kira.

Kucing Tidak Berpikir Seperti Anjing
Kesalahan terbesar manusia adalah menganggap semua hewan memiliki pola sosial yang sama. Padahal kucing dan anjing sangat berbeda. Anjing adalah hewan sosial yang secara alami suka interaksi langsung, perhatian, kontak mata, dan energi antusias dari manusia.
Sedangkan kucing berbeda. Kucing memiliki naluri yang jauh lebih hati-hati. Mereka cenderung:
- mengamati,
- menjaga jarak,
- membaca bahasa tubuh,
- dan mendekati sesuatu secara perlahan.
Dalam dunia kucing, perilaku terlalu agresif justru bisa dianggap ancaman.
Nah, di sinilah masalahnya. Pecinta kucing sering:
- menatap mata kucing terlalu lama,
- memanggil terus-menerus,
- mengejar,
- menggendong tiba-tiba,
- atau terlalu heboh saat melihat kucing lucu.
Bagi manusia itu tanda sayang.
Tetapi bagi sebagian kucing, itu terasa seperti tekanan sosial. Sebaliknya, orang yang tidak suka kucing biasanya:
- diam,
- tidak menatap,
- tidak mendekat,
- bahkan cenderung menghindar.
Dan justru itulah bahasa tubuh yang dianggap “aman” oleh kucing.
Kucing Menyukai Energi yang Tenang
Kucing adalah pembaca energi yang luar biasa sensitif.
Mereka memperhatikan:
- nada suara,
- gerakan tubuh,
- ekspresi wajah,
- ritme gerakan,
- bahkan ketegangan emosional manusia.
Karena itu, orang yang terlalu bersemangat sering dianggap melelahkan bagi kucing.
Sementara orang yang cuek biasanya:
- gerakannya lebih pelan,
- tidak memaksa,
- tidak ribut,
- dan tidak terlalu fokus pada si kucing.
Bagi kucing, itu menciptakan rasa aman.
Ibarat manusia:
kalau ada orang asing terlalu agresif ingin langsung akrab, kita juga kadang merasa tidak nyaman.
Tetapi orang yang tenang dan tidak memaksa justru terasa lebih menenangkan.
Kucing punya logika sosial seperti itu.
Kontak Mata Bisa Dianggap Ancaman
Dalam bahasa tubuh hewan, tatapan mata memiliki arti penting.
Bagi banyak spesies, menatap langsung terlalu lama adalah bentuk dominasi atau ancaman.
Kucing juga demikian.
Itulah sebabnya banyak ahli perilaku hewan menyarankan:
jangan terlalu lama menatap mata kucing asing.
Lucunya, orang yang takut atau tidak suka kucing biasanya malah menghindari kontak mata.
Dan itu dianggap sopan oleh si kucing.
Akhirnya kucing berpikir: “Oh… manusia ini tidak mengancam.”
Lalu dia mendekat.
Ironis ya?
Yang ngejar malah dijauhi.
Yang menghindar malah didekati.
Kucing Sangat Penasaran
Ada satu sifat utama kucing:
mereka sangat penasaran.
Ketika semua orang ramai memanggil, sedangkan satu orang justru diam dan mengabaikan, si kucing bisa menjadi tertarik.
“Kenapa manusia ini beda sendiri?”
Kucing memang terkenal suka mendekati hal yang:
- tidak biasa,
- misterius,
- diam,
- dan sulit ditebak.
Karena itu, orang yang menghindar terkadang justru menjadi objek investigasi mereka.
Apalagi jika orang tersebut duduk tenang.
Bagi kucing, itu seperti undangan VIP:
“Tempat ini aman untuk observasi.”
Aroma Tubuh dan Respons Emosi Juga Berpengaruh
Penelitian tentang perilaku hewan menunjukkan bahwa kucing mampu merespons perubahan emosi manusia.
Ketika seseorang takut atau tidak nyaman, tubuh menghasilkan perubahan kecil:
- detak jantung,
- hormon stres,
- aroma tubuh,
- pola gerakan.
Dan kucing bisa menangkap sinyal-sinyal halus itu.
Kadang kucing mendekat bukan karena “suka”, tetapi karena penasaran dengan respons manusia tersebut.
Mirip seperti:
“Kenapa orang ini tegang sekali ya?”
Bahkan ada kemungkinan kucing justru menikmati reaksi dramatis manusia yang takut pada mereka.
Ya… kadang kucing memang sedikit “iseng”.
Apakah Kucing Sengaja Mengganggu?
Belum tentu.
Sebagian besar kucing sebenarnya tidak berniat mengganggu.
Mereka hanya:
- mencari tempat aman,
- penasaran,
- atau tertarik pada manusia yang tidak agresif.
Namun memang ada kucing tertentu yang sangat sosial dan menikmati interaksi.
Ada juga yang suka mencari perhatian dengan cara unik.
Dan jangan lupa:
kucing memiliki karakter yang sangat berbeda satu sama lain.
Ada yang:
- pemalu,
- dominan,
- manja,
- cuek,
- posesif,
- bahkan drama queen.
Persis manusia.
Pelajaran Menarik dari Perilaku Kucing
Fenomena ini sebenarnya memberi pelajaran sosial yang menarik bagi manusia.
Kadang sesuatu justru mendekat ketika kita tidak terlalu memaksa.
Kucing mengajarkan bahwa:
- rasa aman lebih penting daripada perhatian berlebihan,
- ketenangan lebih menarik daripada agresivitas,
- dan pendekatan lembut sering lebih efektif daripada paksaan.
Lucunya lagi, banyak orang akhirnya mulai suka kucing justru karena “dipilih” oleh seekor kucing.
Awalnya takut.
Lalu penasaran.
Kemudian terbiasa.
Akhirnya jadi budak majikan berbulu itu.
Selamat datang di klub.
Dalam Islam: Menyayangi Hewan adalah Akhlak Mulia
Islam mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk hidup, termasuk hewan.
Rasulullah ﷺ dikenal sangat lembut kepada hewan. Bahkan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa memberi minum hewan dan menyayanginya dapat menjadi sebab ampunan Allah.
Sebaliknya, menyiksa atau menelantarkan hewan merupakan dosa besar.
Kucing sendiri memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Islam karena termasuk hewan yang bersih dan sering hidup berdampingan dengan manusia.
Karena itu, fenomena kedekatan emosional manusia dengan hewan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Kadang hewan menghadirkan:
- ketenangan,
- rasa diterima,
- bahkan terapi emosional,
yang sulit ditemukan dalam hubungan sosial manusia modern.
Jadi, kenapa kucing suka mendekati orang yang tidak suka kucing?
Jawabannya bukan karena kucing suka cari masalah.
Melainkan karena orang yang tidak terlalu memperhatikan mereka sering menunjukkan bahasa tubuh yang justru dianggap aman oleh kucing:
- tidak agresif,
- tidak menatap,
- tidak memaksa,
- dan lebih tenang.
Ditambah sifat alami kucing yang penuh rasa penasaran, hasil akhirnya sering terlihat lucu:
si pecinta kucing diabaikan,
sementara si anti-kucing malah dipilih.
Dan mungkin di situlah letak uniknya kucing.
Mereka tidak selalu datang kepada yang paling ribut memanggil.
Kadang mereka datang kepada yang paling tenang.
Daftar Pustaka
- Bradshaw, John. Cat Sense: How the New Feline Science Can Make You a Better Friend to Your Pet. Basic Books, 2013.
- Turner, Dennis C., & Bateson, Patrick. The Domestic Cat: The Biology of Its Behaviour. Cambridge University Press, 2014.
- Vitale Shreve, Kristyn R., & Udell, Monique A.R. “What’s inside your cat’s head? A review of cat (Felis silvestris catus) cognition research past, present and future.” Animal Cognition, 2015.
- American Society for the Prevention of Cruelty to Animals (ASPCA). “Understanding Cat Behavior.”
ASPCA Official Website - International Cat Care. “Understanding feline body language and communication.”
International Cat Care - Overall, Karen L. Manual of Clinical Behavioral Medicine for Dogs and Cats. Elsevier, 2013.
- Horwitz, Debra F., & Mills, Daniel S. BSAVA Manual of Canine and Feline Behavioural Medicine. BSAVA Publications, 2012.
- Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab dan Kitab al-Mazhalim.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim, Bab Kasih Sayang kepada Hewan.
- Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Syarah Shahih Muslim. Dar al-Ma’rifah.

