Kesehatan Kucing

Rhinotracheitis

Catlovers  mungkin sudah cukup sering mendengar nama penyakit ini, Yup rhinotracheitis adalah salah satu penyakit penting yang dimasukkan dalam vaksin pertama pada kucing. Vaksin pertama untuk kucing sendiri umumnya terdiri dari vaksin terhadap penyakit panleucopenia, calicivirus, dan rhinotracheiitis. Namun, pernahkah catlovers menemukan kucing dengan penyakit ini?

Rhinotracheitis merupakan penyakit akut pada system pernafasan yang mudah sekali menular dan biasanya dicirikan dengan adanya leleran dari mata dan hidung. Penyakit ini disebabkan oleh virus Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) yang termasuk dalam keluarga Herpesvirus. Penyakit ini juga merupakan penyakit system pernafasan yang paling umum ditemukan pada kucing liar maupun rumahan dengan populasi yang cukup tinggi. Sekali  terinfeksi oleh virus ini, maka kucing akan memiliki virus tersebut dalam tubuhnya seumur hidup. Oleh karena itu, kucing yang pernah terinfeksi virus ini dapat kembali menderita Rhinotracheitis secara berulang apabila system imun tubuhnya menurun (Povey 1979, Maes 2012).

Gejala awal dari penyakit ini ialah kucing selalu bersin yang kemudian menderita demam dengan suhu badan 40-41o celcius, hilang nafsu makan dan depresif. Gejala lebih lanjut tampak adanya radang mata radang sinus hidung (sinusitis dan rhinitis), keluar air liur berlebihan ingus mengental yang mulai keluar dari lubang hidung serta mulai tampak luka di selaput hidung, mulut, bibir,atau lidah.

Serta sering bersin-bersin layaknya manusia yang menderita flu, demam di atas 39,5oC, leleran dari hidung dan mata, tidak nafsu makan, dan hipersalivasi (peningkatan pengeluaran air liur) tanpa disertai adanya luka pada rongga mulut seperti sariawan (Povey 1979). Drh.Sri menungkapkan “Penyebarannya sangat cepat, masa kritis bisa berlangsung dari 1 hingga 6 hari, sehingga jika ada satu kucing terkena panleukopenia harus cepat-cepat dipisahkan dari kucing yang lain agar tidak menular.”

Penyebaran dari penyakit ini dapat terjadi melalui kontak langsung antar sesame kucing, kontaminasi peralatan atau makan dan minuman kucing oleh leleran mata, hidung, atau bersin kucing, dll (Povey 1979).

Drh. Sri

“Kematian juga dapat terjadi pada kucing yang memiliki system imun tubuh yang lemah seperti anak kucing, kucing dengan penyakit imunosupresi,” ungkap Sri.

Untuk pengobatan diarahkan pada penanggulangan atau pengurangan gejala yang disebut terapi simptomatik. Selain itu, pengobatan dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh melalui pemberian makan bergizi secara paksa. Untuk mencegah infeksi sekunder dan membasmi mikoplasma chlamydia, penderita diberikan antibiotik spektrum luas. Obat tetrasiklin salah satu obat yang cukup efektif mengatasi Chlamydia. Ingus yang keluar harus sering dilap. Bila tidak, ingus akan cepat mengering dan menyumbat hidung sehingga penderita akan sulit bernafas. Untuk mengurangi keluarnya ingus, berikan obat tetes hidung yang berisi ephedrine sulfate 0,25% sebanyak dua tetes untuk setiap lubang hidung.

Gejala lain yang perlu dikurangi atau ditanggulangi adalah radang mata dan reaksi alergi. Untuk mengobati radang mata dapat dipakai salep mata tetrasiklin sebanyak 5-6 kali sehari untuk mengurangi reaksi alergi, berikan tablet CTM dengan dosis 8 mg untuk kucing dewasa dan 4 mg untuk anak kucing dalam dosis yang terbagi 2-3 kali sehari.

Pencegahan hanya dapat dilakukan melalui vaksinasi teratur sejak umur 7-8 minggu, terutama pada kucing ras. Agar diperoleh kekebalan yang baik, vaksinasi diulang dua kali dengan interval 3-4 minggu, lalu divaksinasi lagi setiap tahun. Vaksin terhadap penyebab penyakit terhadap pernapasan kompleks (herpes, calicivirus, dan Chlamydia) ini sudah lama ada di Indonesia dalam bentuk polivaksin. (Stephany/Vira)

Sumber :

Povey R C. 1979. A review of feline viral rhinotracheitis (feline herpesvirus 1 infection). [Journal]. Comp lmmunMicrobiol Infect Dis. 2:373 387.

Maes R. 2012. Felidherpesvirustype1infectionincats:anatural host modelforalphaherpesviruspathogenesis. [Journal]. International Scholarly Research Network. 2012: 1-15.

One Reply to “Rhinotracheitis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *