Jumat 24 Juli 2026 Pukul 14.00-15.30 WIB Webinar BONGKAR TREND BISNIS PETSHOP 2026: STRATEGI NAIKKAN OMZET TANPA PERANG HARGA-WEBINAR SERIES IIPE2026, digelar via Zoom, dengan pembicara Sandy Wijaya, SE., MM. Founder Pet Gallery Yogyakarta & Wakil Ketua Asosiasi Pet Shop Indonesia (ASPIN).
Dipandu oleh: 🎙️ drh. Sri Wahyuni , Praktisi Pet Animal – Doc Pet Clinic Makassar, dalam rangka Webinar Series Road to IIPE September 2026, didukung oleh Pet Gallery Yogyakarta, Docpet Clinic Makassar, dan diikuti oleh Praktisi Petshop, Klinik, pecinta Hewan Kesayangan, dan beberapa peserta dari Asosiasi, seperti dari ASOHI, PPMHKI, ICA, PERKIN.
Host Dwijo, didampingin Ir. Bambang Suharno, Ir. Darmanung, Anang Sam, Mariyam dan Efi menjadi team pemandu dari lantai 3 Gedung PT Gallus Indonesia Utama Pasar Minggu Jakarta Selatan.
Seperti apa topiknya, silahkan simak Webinarnya :
Bongkar Tren Bisnis Petshop 2026
Saatnya Berhenti Perang Harga, Mulai Membangun Nilai
Industri pet di Indonesia sedang memasuki babak baru. Jika beberapa tahun lalu persaingan bisnis petshop lebih banyak ditentukan oleh siapa yang menjual produk paling murah, maka memasuki tahun 2026 kondisinya berubah drastis.
Kini, pelanggan tidak lagi sekadar mencari harga terendah. Mereka mencari pengalaman, kepercayaan, edukasi, dan layanan yang membuat hewan kesayangannya mendapatkan perawatan terbaik.
Perubahan inilah yang menjadi pesan utama dalam materi “Bongkar Trend Bisnis Petshop 2026”, sebuah panduan strategi bagi pelaku usaha petshop agar tetap bertumbuh tanpa harus terjebak dalam perang harga.
Pasar Pet Indonesia Masih Sangat Menjanjikan
Industri pet food nasional masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Masuknya investor asing, meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan, berkembangnya teknologi produksi lokal, hingga semakin matangnya ekosistem bisnis pet menjadi sinyal bahwa pasar masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Selain produk makanan, permintaan terhadap aksesori, obat hewan, vitamin, grooming, hingga layanan kesehatan juga terus meningkat.
Artinya, peluang bisnis tidak lagi hanya berada di rak penjualan makanan hewan, tetapi meluas ke berbagai layanan pendukung.
Generasi Muda Menjadi Penggerak Industri
Salah satu fakta menarik adalah perubahan profil pet owner di Indonesia.
Mayoritas pemilik hewan peliharaan saat ini berasal dari kalangan Milenial dan Gen Z, terutama perempuan yang tinggal di kawasan perkotaan.
Mereka memiliki karakter yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Mereka rela mengeluarkan biaya lebih besar demi kesehatan dan kenyamanan hewan peliharaannya, selama mereka yakin produk maupun layanan tersebut benar-benar berkualitas.
Di sisi lain, kucing masih menjadi hewan peliharaan paling populer di Indonesia, jauh melampaui ikan hias maupun burung.
Hal ini menjadikan segmen kucing sebagai salah satu pasar terbesar bagi pelaku usaha petshop.
Pet Bukan Lagi Hewan, Tetapi Anggota Keluarga
Fenomena humanized pet semakin terasa.
Semakin banyak pemilik yang memperlakukan anjing maupun kucing layaknya anggota keluarga sendiri.
Mereka tidak hanya membeli makanan, tetapi juga memperhatikan kualitas nutrisi, kesehatan mental, grooming premium, spa, daycare, hingga layanan konsultasi kesehatan.
Dengan kata lain, pelanggan membeli rasa aman dan kenyamanan, bukan sekadar produk.
Harga Ternyata Bukan Penentu Utama
Salah satu temuan paling menarik dari presentasi ini adalah bahwa harga hanyalah satu dari sekitar 40 faktor yang memengaruhi keputusan pembelian.
Pemilik hewan juga mempertimbangkan banyak aspek lain, seperti:
- kualitas produk,
- kandungan nutrisi,
- keamanan bahan,
- merek,
- pelayanan,
- pengalaman berbelanja,
- rekomendasi komunitas,
- hingga hubungan emosional dengan toko.
Inilah sebabnya mengapa perang harga sering kali justru merugikan pelaku usaha sendiri.
Konsumen Semakin Pintar Memilih Produk
Saat memilih makanan hewan, pelanggan kini semakin kritis.
Mereka mulai memperhatikan:
- kualitas bahan baku,
- kandungan protein,
- ukuran dan bentuk kibble,
- keamanan produk,
- kemudahan penyimpanan,
- manfaat kesehatan,
- hingga isu keberlanjutan lingkungan.
Bahkan bahan protein alternatif seperti serangga, plant-based, maupun cultivated meat mulai mendapat perhatian, meskipun penerimaannya masih berkembang.
Yang menarik, dalam kategori treats atau makanan ringan, harga justru bukan pertimbangan utama. Pemilik lebih mengutamakan kualitas bahan, rasa, serta manfaat kesehatan.
Mengapa Perang Harga Harus Dihentikan?
Diskon memang bisa meningkatkan penjualan dalam jangka pendek.
Namun jika dilakukan terus-menerus, dampaknya justru berbahaya.
Margin keuntungan semakin tipis.
Pelanggan menjadi tidak loyal.
Brand kehilangan citra premium.
Dan ketika muncul toko lain yang lebih murah, pelanggan pun mudah berpindah.
Sebaliknya, bisnis yang menawarkan nilai tambah akan memiliki pelanggan yang lebih setia dan keuntungan yang lebih sehat.
Empat Strategi Petshop Menuju 2026
1. Jadilah Ahli, Bukan Sekadar Penjual
Pemilik hewan membutuhkan tempat bertanya.
Petshop yang mampu memberikan edukasi mengenai nutrisi, vitamin, maupun kesehatan hewan akan jauh lebih dipercaya.
Kolaborasi dengan dokter hewan dan aktif membuat konten edukasi di media sosial juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun reputasi.
2. Berikan Pengalaman yang Tidak Bisa Dibeli Online
Era e-commerce membuat produk semakin mudah diperoleh.
Namun pengalaman tidak bisa dikirim melalui paket.
Karena itu, toko fisik harus menghadirkan nilai tambah seperti:
- grooming premium,
- spa,
- daycare dengan CCTV,
- ruang tunggu nyaman,
- hingga acara komunitas rutin.
Pengalaman inilah yang membuat pelanggan kembali datang.
3. Bangun Komunitas Loyal
Komunitas adalah aset pemasaran paling murah sekaligus paling kuat.
Membership eksklusif, kegiatan gathering, hingga perhatian sederhana seperti mengingat nama hewan pelanggan dapat menciptakan hubungan emosional yang sulit ditiru kompetitor.
Ketika pelanggan merasa menjadi bagian dari komunitas, mereka akan menjadi promotor bisnis secara sukarela.
4. Perkuat Manajemen Internal
Strategi pemasaran yang hebat tidak akan berhasil tanpa operasional yang baik.
Karena itu, petshop perlu memastikan:
- SDM yang kompeten,
- pengawasan stok yang ketat,
- efisiensi biaya,
- program kerja yang terukur,
- serta SOP yang jelas.
Fondasi manajemen yang kuat menjadi penentu keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Penutup
Tahun 2026 bukanlah tentang siapa yang menjual paling murah.
Tahun 2026 adalah tentang siapa yang mampu membangun kepercayaan, pengalaman, dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Petshop yang mampu menjadi pusat edukasi, menghadirkan layanan bernilai tambah, serta membangun komunitas yang loyal akan memiliki peluang lebih besar untuk terus bertumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.
Di era ketika pelanggan menganggap hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga, bisnis petshop tidak lagi hanya menjual produk. Mereka menjual rasa aman, perhatian, dan pengalaman yang membuat setiap pemilik merasa telah memberikan yang terbaik bagi sahabat berbulu mereka.

