Jakarta, 8 Juli 2026 – Persaingan industri hewan kesayangan di Indonesia kian dinamis seiring bertambahnya pelaku usaha, perubahan perilaku konsumen, serta masuknya berbagai merek global. Menjawab tantangan tersebut, Jakarta Pet Expo (JPE) bekerjasama dengan PPMHKI, didukung oleh Majalah Cat&Dog sebagai media partner menggelar Executive Roundtable Discussion bertema “Building Sustainable Brands in a Competitive Market” di Aston Hotel Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/7).
Forum tertutup yang dipandu Eko Prasetyo, DVM, Millennial Integrated Pet Business Consultant, ini dihadiri para pimpinan perusahaan petfood, Perusahaan obat hewan, Perusahaan sarana hewan peliharaan, pengurus PPMKI (Perkumpulan Perusahaan Makanan Hewan Kesayangan Indonesia), ASPIN (Asosiasi Petshop Indonesia), PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) dan praktisi pemasaran pet industry untuk berbagi strategi membangun merek yang tangguh dan berkelanjutan.
Direktur PT Songolas (penyelenggara JPE) Deny Yunus dalam sambutan pembukaannya menyampaikan terima kasih atas dukungan semua stakeholder terhadap suksesnya JPE yg telah diselenggarakan dua kali dan mengalami peningkatan signifikan di tahun kedua tahun 2025 lalu. JPE tidak sekedar penyelenggara pameran namun bermaksud menjadi forum untuk bersama-sama meningkatkan industri pet animal. “Itu sebabnya kami menyelenggarakan forum ini,” ujarnya.
Membuka sesi presentasi , Fera Shintarini, Research Director Ipsos Indonesia, memaparkan bahwa sekitar empat dari lima masyarakat Indonesia memelihara hewan, dengan kucing sebagai favorit utama, diikuti ikan, burung, dan anjing. Menurutnya, tren pet humanization semakin menguat, tercermin dari maraknya akun media sosial khusus hewan peliharaan dan munculnya para petfluencer. Meski kondisi ekonomi mendorong konsumen lebih selektif berbelanja, kebutuhan esensial seperti pakan, suplemen, dan layanan kesehatan tetap menjadi prioritas. Konsumen kini semakin memperhatikan manfaat produk bagi kesehatan, kualitas nutrisi, dan kemudahan akses. Ke depan, layanan berbasis teknologi seperti tele-veteriner, mobile grooming, serta produk kesehatan premium dan alami diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan industri.
Dari sisi industri, Judha Djohari, B.Sc (UNSW), Sekretaris Jenderal PPMHKI, menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha, asosiasi, dan regulator guna menciptakan ekosistem yang sehat dan meningkatkan daya saing produk nasional.
Dukungan juga disampaikan Ketua Umum PB PDHI, Dr. drh. M. Munawaroh saat sesi tanya jawab. Pihaknya mengapresiasi keberhasilan pelaku usaha petfood dalam negeri memperkuat kapasitas produksi hingga menembus pasar ekspor. “Ini membuktikan pengusaha dalam negeri dapat eksis di pasar internasional,” tegasnya.
Perspektif praktis disampaikan drh. Radhiyan Fadiar Sahistya, Founder Radhiyan Pet & Care, yang menilai keberhasilan merek dibangun melalui pelayanan yang konsisten, inovasi berkelanjutan, dan komitmen menjaga kepercayaan pelanggan. Sementara itu, Hengky Jaya, Head of Marketing CPPETINDO, menyoroti perlunya strategi pemasaran yang adaptif melalui integrasi kanal digital, penguatan komunitas, dan kolaborasi strategis.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dari para peserta mengenai peluang dan tantangan industri pet nasional. Seluruh pihak sepakat bahwa kekuatan merek masa kini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen, mitra bisnis, dan ekosistem industri secara keseluruhan.

Acara diakhiri dengan presentasi tentang perkembangan JPE oleh Ichwan Sofyan, disertai ajakan seluruh stakeholder untuk memanfaatkan momen JPE 2026 yang akan berlangsung November 2026 di JIE Kemayoran Jakarta, sebagai forum untuk meningkatkan pet Industry di Indonesia.
Sebagai bagian dari rangkaian Jakarta Pet Expo 2026, forum ini menegaskan komitmen penyelenggara untuk menghadirkan wadah pertukaran gagasan strategis sekaligus mendorong lahirnya merek-merek yang inovatif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

