Kesehatan Anjing

Kenali Gejala Cacingan Pada Anjing

Gejala cacingan pada anjing

Cacing merupakan hewan yang bersifat parasit dalam tubuh inangnya. Tidak saja menginfeksi manusia, cacing juga bisa menyerang hewan kesayangan seperti anjing. Anjing cacingan menjadi masalah kesehatan yang kerap dijumpai para pemilik hewan kesayangan.

Cacing yang menyerang tubuh anjing sangat merugikan karena dapat mengganggu kesehatan hewan peliharaan. Akibat yang ditimbulkan dari cacingan berupa kekurangan nutrisi serta anemia atau kurang darah. Bahkan, akibat terburuk dari infeksi cacing bisa berujung kematian, seperti pada kasus infeksi cacing jantung. Pasalnya, cacing jenis ini menyerang jantung dan paru-paru anjing.

Youtube Cat & Dog

Gejala cacingan pada anjing bisa ditengarai dari fisik dan gerak-geriknya. Ciri yang mudah dikenali adalah muntah. Feses anjing pun terlihat encer, seperti terserang diare. Tidak jarang, dalam feses tersebut terbawa cacing. Fisik anjing juga terlihat tidak sehat.

Meskipun demikian, gejala-gejala anjing terkena cacingan tidaklah sama, tergantung jenis cacing yang menyerangnya. Pada umumnya, jenis cacing parasit yang kerap menyerang anjing di antaranya cacing gelang, cacing pita, cacing cambuk, cacing hati, dan cacing tambang.

Cacing Gelang

Cacing yang sering menyerang anjing di antaranya jenis cacing gelang atau Toxocaracanis, Toxascarisleonina. Secara fisik, cacing ini berwarna putih dan bentuknya tampak seperti mi instan. Hewan parasit ini bisa tumbuh hingga mencapai panjang tubuh 17,5 cm.

Cacing gelang menyerang anjing melalui berbagai cara. Salah satu penyebarannya adalah melalui induk anjing yang terinfeksi cacing dan menurunkannya ke anak-anaknya. Cacing ini bisa ditularkan ketika induk anjing sedang hamil. Cacing yang biasa tinggal di dalam usus ini kemudian berpindah ke rahim dan menginfeksi janin yang ada di dalamnya. Akibatnya, ketika terlahir, anak-anak anjing tersebut sudah diinfeksi oleh cacing yang berasal dari induknya. Selain itu, penularan cacing juga bisa melalui air susu induk anjing pada anak-anak yang disusuinya.

Gejala infeksi cacing gelang antara lain bisa diketahui dari encernya feses. Terkadang, cacing gelang bisa ditemukan pada feses atau muntahan hewan inang tersebut. Ciri berikutnya, bulu inang tampak kusam dan tidak sehat. Gejala selanjutnya, anjing terkena diare dan muntah. Perutnya terlihat kembung atau membengkak.

Disebabkan cacing bersifat parasit, sari-sari makanan dalam saluran pencernaan hewan inang akan diisap. Akibatnya, anjing yang terjangkit cacingan akan mengalami kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhannya terhambat.

Cacing Pita

Ketika belum tumbuh dewasa, cacing pita berbentuk seperti biji beras. Tubuh cacing pita akan tumbuh semakin panjang, yang ditengarai dari bentuk tubuhnya yang bersegmen-segmen atau beruas-ruas. Panjang cacing pita dewasa bisa mencapai lebih dari 4,5 m. Setiap ruas tubuhnya memiliki sistem pencernaan dan reproduksi sendiri.

Gejala hewan yang terinfeksi cacing pita hampir sama dengan cacing gelang, misalnya muntah. Anjing akan tampak kurang sehat dan terlihat kurus karena kurang nutrisi. Cacing ini bisa ditemukan dalam keadaan masih hidup pada muntahan hewan inang atau dari feses yang dikeluarkannya. Terkadang, cacing pita juga terlihat di daerah sekitar anus hewan inang atau tempat tidurnya.

Penyebaran cacing pita bisa terjadi karena anjing memakan kutu yang terinfeksi cacing pita. Ketika sudah di dalam saluran pencernaan hewan inang, benih cacing tersebut akan tumbuh dan berkembang.

Cacing Tambang

Infeksi cacing tambang Ancylostomacaninum, A. braziliense, Ucinaria stenocephala bisa fatal karena bisa berujung pada kematian anjing. Meskipun demikian, gejala infeksi cacing ini terkadang tidak bisa melalui pengamatan kotoran atau muntahan anjing, kecuali melalui pemeriksaan laboratorium.

Gejala umum infeksi cacing tambang antara lain diare dengan feses yang terkadang berdarah atau berwarna gelap. Infeksi cacing ini juga bisa diketahui dengan adanya ruam pada kaki hewan inang. Selain itu, pertumbuhan hewan akan terhambat karena anemia dan kekurangan gizi. Hewan akan tampak lesu dan kekurangan tenaga. Ciri lainnya, gusi anjing akan tampak kusam dan terdapat iritasi pada kulitnya.

Seperti halnya cacing gelang, cacing tambang bisa ditularkan dari induk pada janinnya atau anaknya melalui pemberian air susu. Penularan bisa juga terjadi karena kontak dengan binatang lain yang sudah terinfeksi cacing tambang. Selain itu, cacing tambang menginfeksi hewan inang melalui kulit. Selanjutnya, dari kulit mereka akan berpindah menuju paru-paru hewan yang terinfeksi.

Cacing Cambuk

Cacing cambuk atau Trichuris vulpis disebut juga cacing pipih karena bentuk tubuhnya yang pipih menyerupai cambuk. Cacing ini tidak mudah dilihat dengan mata telanjang. Dengan demikian, pemeriksaan feses melalui mikroskop perlu dilakukan untuk memastikan adanya infeksi pada hewan peliharaan.

Meskipun demikian, infeksi cacing cambuk dapat menyebabkan hewan peliharaan mengalami penurunan berat badan, diare, lesu atau kurang tenaga, anemia, dan perut kembung. Selin itu, pada fesesnya dijumpai lendir atau darah.

Cacing cambuk dapat ditularkan dari induk yang terinfeksi pada anak-anaknya, bisa melalui rahim ke janinnya atau pun melalui air susunya. Selain itu, penyebarannya juga karena hewan peliharaan melakukan kontak dengan binatang lain yang sudah terinfeksi cacing tersebut.

Cacing Hati

Cacing hati atau Diflofilaria immitis tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Akibatnya, untuk memastikan infeksinya diperlukan pengujian darah di laboratorium.

Penyebaran cacing hati melalui kulit. Penyebarannya ditengarai melalui hewan vektor berupa nyamuk malaria, yang sebelumnya mengisap darah anjing yang terinfeksi cacing jantung. Ketika mengisap darah, nyamuk akan memindahkan mikrofilaria pada anjing yang masih sehat. Mikrofilaria tersebut akan tumbuh menjadi cacing hati di dalam tubuh hewan yang baru.

Gejala infeksi cacing hati pada hewan peliharaan pada awalnya tidak mudah diamati. Ketika infeksi sudah berlangsung selama 9 bulan, cacing hati sudah berukuran dewasa dan gejala infeksi baru bisa dikenali. Beberapa gejalanya antara lain perut hewan inang membengkak, mengalami kesulitan bernapas, bulu tampak kusam, serta penurunan berat badan. (Noerhidajat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *